Senin, 17 Oktober 2011


Ia berhenti sebentar karena harus
membujuk Suto. Sebab dalam pelariannya tadi,
Bidadari Jalang telah berusaha menotok jalan darah
Suto agar berhenti berteriak dan pingsan, sehingga
tidak berisik suaranya. Namun, anak itu justru menjerit
makin keras jika terkena totokan jari Bidadari Jalang.
Rupanya anak itu sudah tak mempan totokan lagi. Dan
Bidadari Jalang tahu, semua itu adalah ulah si Gila
Tuak, yang tadi waktu ada Kombang Hitam telah
melepaskan totokan pada diri Suto. Kini justru Gila
Tuak telah berhasil menyalurkan hawa dinginnya pada
tubuh dan darah bocah tanpa pusar itu, sehingga kebal
totokan siapa pun. Itulah sebabnya Bidadari Jalang
perlu membujuk Suto.
Namun, begitu ia mendaratkan kakinya di
permukaan batu besar, tiba-tiba di salah satu batu
sebelahnya telah berdiri si Gila Tuak dengan senyum di
mulutnya. Tongkatnya tergenggam di tangan kanan
dengan ujung tongkat diletakkan di samping kaki. Sosok
tegapnya masih terlihat walau ia berdiri memunggungi
matahari senja. Bayangan sosok Gila Tuak membuat
hati Bidadari Jalang sedikit terperanjat. Tak sangka
Gila Tuak sudah lebih cepat sampai ketimbang dirinya.
"Hebat juga kau, Gila Tuak!" gumam Bidadari
Jalang. "Tapi kau tak akan bisa merebut anak ini!"
"Jangan salahkan aku jika terpaksa menurunkan
tangan keras padamu, Bidadari Jalang!"
"Kalau kau mampu, lakukanlah!" tantang
perempuan itu dengan senyum manis yang menggoda
setiap lelaki. Hanya Gila Tuak yang tidak tergoda oleh
senyuman birahi Bidadari Jalang.
Padahal, 'Senyuman Iblis' adalah salah satu ilmu
yang sering digunakan oleh Bidadari Jalang untuk
mengalahkan lawannya, Biasanya, senyuman itu mampu
membuat lawannya reda dari kemarahan, reda dari
nafsu membunuhnya, dan justru menjadi kasmaran
kepadanya. Lawan, bisa dibuatnya pasrah tak berdaya
karena merasa dibuat nikmat dengan memandang
senyuman iblis itu.
Tapi rupanya si Gila Tuak sudah memperkirakan
akan digunakannya ilmu 'Senyuman Iblis' yang
mempunyai pengaruh maut untuk jiwanya, sebab itu ia
telah menutup jiwanya sehingga tidak pernah punya
rasa tertarik dengan senyuman siapa saja.
"Nawang, kenapa kau bersikeras mendapatkan
bocah tanpa pusar itu? Apa keperluanmu terhadapnya?"
"Aku butuh obat. Aku butuh mengembalikan
beberapa ilmuku yang hilang terhisap kekuatan Tiga
Pendekar Tibet dulu. Di dalam tubuhku sejak
pertarungan dengan Tiga Pendekar Tibet itu, telah
mengidap racun berbahaya, namanya Racun Birahi.
Racun ini akan mengikis habis kekuatanku sedikit demi
sedikit jika aku sedang kasmaran dengan seorang pria.
Racun Birahi ini akan menjadi tawar jika aku sering
mendapat hawa murni dari lelaki yang tidak
mempunyai pusar. Dan, sudah sekian lama aku
mencarinya, tapi tak pernah kutemukan lelaki tanpa
pusar. Maka ketika kulihat bocah ini tanpa pusar, aku
segera merebutnya dari tangan Kombang Hitam. Bocah
inilah satu-satunya jalan untuk membuat kekuatanku
pulih kembali dan racun menjadi tawar."
"Dasar Jalang! Dia masih bocah! Masih ingusan dan
belum bisa mengeluarkan hawa murni!" sentak Gila
Tuak.
"Aku akan mendidiknya. Aku akan menjadi gurunya
termasuk guru cinta. Hi hi hi...."
"Guru sesat!" geram si Gila Tuak lagi. "Jangan kau
racuni masa depan anak itu dengan persoalan cinta
birahimu, Bidadari Jalang! Biarkan dia menerima ilmuilmuku
supaya aku bisa meninggalkan dunia ini dengan
tenang, entah di tangan siapa saja!"
"Hi hi hi..., kamu pikir enak, ya, punya ilmu yang
bisa membuat umur panjang? Hi hi hi... rasakan
susahnya orang yang jenuh hidup dalam ketuaan! Masih
mending aku, awet hidup tapi masih tetap muda. Tidak
sepeot kamu. Hi hi hi..."
"Setan! Kalau kau tidak mempunyai ramuan awet
muda dan ilmu kecantikan abadi, kau juga akan setua
aku, Bidadari Jalang. Aku tahu, umurmu sebaya dengan
umurku!"
"Tentu saja! Tapi kita beda guru walau saat
diangkat murid kita sama-sama berusia imbang. Aku
mewarisi ilmu Kecantikan Abadi dari Eyang Guru Nini
Galih, sedangkan kau mewarisi ilmu Usia Panjang dari
suaminya, yaitu Eyang Purbapati. Dan ternyata akulah
yang lebih unggul. Walau aku bisa mati kapan saja, tapi
kecantikanku tidak tersiksa raga tua renta seperti
kamu. Hi hi hi... untuk apa mempunyai umur panjang
kalau raga kita makin lama semakin keropos, Gila
Tuak?"
"Sudah. Cukup! Jangan mengingat-ingat masa lalu.
Jangan mengungkit Eyang-eyang guru kita masingmasing.
Persoalan kita adalah Suto!"
"Rebutlah kalau kau merasa mampu!"
"Hiaah...!" si Gila Tuak melompat sambil
mengarahkan tongkatnya ke tubuh Bidadari Jalang.
Namun, begitu melihat tubuh Bidadari Jalang
melayang, Bidadari Jalang pun melompat jauh ke
kanan. Sodokan tongkat itu membentur batu yang
semula ada di belakang Bidadari Jalang. Batu itu pun
segera retak terbagi beberapa bagian, bagaikan
dihantam palu godam yang sangat besar.
Menyadari kekuatannya telah berkurang sejak ia
terkena Racun Birahi, maka perempuan itu segera
melarikan diri. Ia sedikit cemas menghadapi Gila Tuak
dalam keadaan kurang kekuatan. Siapa tahu si Gila
Tuak itu sudah berhasil menemukan jurus-jurus baru
dalam padepokannya sejak ia menghilang dari rimba
persilatan selama tujuh tahun. Bisa-bisa jurus dan ilmu
barunya Gila Tuak membuat hancur seluruh kekuatan
Bidadari Jalang yang tersisa itu.
Melarikan diri adalah hal terbaik. Menghindari
pertarungan dengan Gila Tuak, untuk saat ini adalah
langkah yang tepat. Tapi Gila Tuak sendiri tidak mau
melepaskan Bidadari Jalang begitu saja. Ia pun segera
mengejarnya. Mereka menuruni bukit dengan
kecepatan tinggi. Suara jeritan Suto yang dibawa lari
secepat itu, membuat jejak tersendiri bagi Gila Tuak.
"Nawang! Berhenti kau! Hadapi aku!" teriak Gila
Tuak, yang kemudian ia sendiri berhenti dari larinya.
Matanya menyipit memandang kilasan angin merah
yang berkelebat di depannya. Serta-merta tongkatnya
dilemparkan dengan tangan kiri. Sekalipun memakai
tangan kiri, namun tongkat itu melesat bagaikan anak
panah yang tak dapat dilihat mata telanjang. Dan tibatiba
terdengar suara orang memekik. '
"Aaahg...!"
Bidadari Jalang yang ada di tempat tinggi, di
sebuah dahan pohon, jatuh terkulai karena
punggungnya menjadi sasaran tongkat si Gila Tuak itu.
Tubuh Suto pun melayang jatuh sambil anak itu
menjerit ketakutan.
"Waaaooow...!"
Wusssh...! Taaap...!
Gila Tuak berkelebat cepat. Tubuh Suto tertangkap
olehnya. Bocah tanpa pusar itu menghembuskan napas
lega.
Bidadari Jalang tak sempat menyentuh tanah.
Kakinya menginjak salah satu ranting semak, lalu
melenting naik lagi, dan hinggap di salah sebuah dahan
kecil yang tak mungkin bisa dipakai untuk bertengger
burung rajawali. Namun nyatanya bisa dipakai
bertengger Bidadari Jalang. Jika bukan ilmu peringan
tubuh yang amat tinggi, tidak mungkin Bidadari Jalang
mampu berdiri di sana.
Ia sempat nyengir sebentar sambil memegangi
pinggangnya, kemudian menatap si Gila Tuak yang ada
di dahan pohon lainnya, lebih tinggi letaknya.
"Jahanam kau, Gila Tuak!" geram Bidadari Jalang.
Gila Tuak hanya tersenyum. Kumis putihnya sedikit
naik.
"Kek... jangan bawa aku terbang, Kek. Aku puyeng,
Kek. Kepalaku pusing dan... dan... hooek...!" ,
Tiba-tiba Suto muntah. Bukan muntah darah. Bukan
muntah karena pukulan tenaga dalam. Tapi muntah
karena pusing dan mual perutnya. Gila Tuak berteriak
pada Bidadari Jalang sambil membungkukkan kepala
Suto.
"Lihat! Anak ini mabuk dan bisa sinting gara-gara
kau bawa lari sana-sini!"
"Persetan! Terimalah pukulan 'Gegana'-ku ini.
Hiaat...!"
Dua jari disentakkan ke depan oleh Bidadari Jalang.
Dari ujung dua jari itu melesat sinar patah berwarna
kuning. Arahnya ke wajah si Gila Tuak. Tapi, dengan
cepat Gila Tuak melompat turun ke bawah. Wusss...!
Bersamaan dengan itu, sinar kuning terang
membentur pohon tempat Gila Tuak tadi bertengger.
Pohon itu hanya terguncang sedikit. Daunnya rontok
sebagian. Tapi masih berdiri tegak. Sedangkan Gila
Tuak sudah sampai di bawah. Suto semakin muntah
dibawa terjun begitu cepat.
"Hoooek... hoooek...! Oh, puyeng saya, Kek.
Puyeng...!" ucap Suto lemah sekali. Gila Tuak iba
melihat anak itu.
Sebenarnya si Gila Tuak tidak ingin lari. Kasihan
Suto. Tapi ia melihat Bidadari Jalang turun dari atas
pohon dengan jubahnya berkibar bagaikan sayap
garuda. Rambutnya pun meriap terbang dengan
membentuk keindahan tersendiri. Maka, mau tak mau
Gila Tuak segera melarikan Suto sambil berkata, "Kapan
saja kau mau muntah, muntahkan saja. Kakek tidak
marah terkena muntahanmu, Suto!"
"Sabawana!" teriak Bidadari Jalang. "Ke mana pun
kau lari akan kukejar dan kubuat cacat seumur
hidupmu! Jahanam kau!"
Mendengar seruan itu, Gila Tuak tahu bahwa
kemarahan Bidadari Jalang sudah mulai mendekati
puncaknya. Sebab, biasanya jika perempuan itu marah
sampai memuncak, ia selalu menyebut nama asli Si Gila
Tuak, yaitu Ki Sabawana.
Bidadari Jalang berteriak lengking. Nyaring dan
keras sekali. Suara teriakannya menyerupai sebuah
seruling. Dan suara itu membuat hewan-hewan hutan
menjadi kalang kabut. Burung beterbangan sambil
mencicit bagaikan ketakutan. Ular-ular yang
bersembunyi di sarangnya melesat keluar. Seakan
semua hewan yang ada di hutan lereng bukit itu
menjadi panik dan salah tingkah.
Sabawana mendekap telinga Suto sambil tetap
membawanya lari. Kalau saja tangan Sabawana tidak
mendekap telinga Suto, maka dari dalam telinga itu
akan mengalir darah segar. Gendang telinga akan
pecah. Karena Gila Tuak tahu bahwa jeritan lengking
itu adalah ilmu 'Siulan Peri' warisan Eyang Nini Galih,
gurunya Bidadari Jalang. Sementara itu, Gila Tuak tidak
perlu menutup telinganya sendiri dengan tangan atau
alat apa pun, karena ia telah menyalurkan kekuatan
tenaga dalamnya untuk menutup gendang telinga,
melapisinya, hingga tak akan ditembus kekuatan 'Siulan
Peri' tersebut.
Gila Tuak terus berlari, Bidadari Jalang terus
mengejar dengan penasaran. Sampai akhirnya mereka
tiba di pesisir utara. Tanah yang sepi di pinggiran laut
itu mempunyai warna yang putih. Tempatnya lega,
karena tanaman kelapa dan sebagainya berada dalam
jarak antara dua puluh lima tombak dari tepian laut.
Gila Tuak ingin segera membawa Suto
menyeberangi lautan dengan menggunakan ilmu
peringan tubuhnya yang bisa berjalan di atas air
asalkan ada alasnya. Tetapi, langkah itu terpaksa harus
terhenti. Di sampingnya Suto muntah-muntah lagi
sambil merengek.
"Puyeng, Kek. Aku mual dan puyeng sekali...."
Juga karena ia memandang aneh di tengah lautan.
Pada saat itu Bidadari Jalang menyusul dengan
sentakan suara kemarahannya.
"Mau lari ke mana kau, Sabawana!"
Mata perempuan itu memandang tajam. Penuh
pijar-pijar kemarahan. Gila Tuak diam. Memandangnya
sebentar sambil dalam posisi setengah jongkok, karena
harus memijit-mijit tengkuk Suto yang masih muntah
tanpa cairan lagi itu.
"Nawang, kau lihat perahu yang bergerak itu?!
Perhatikanlah gambar pada layarnya."
Bidadari Jalang menatap ke laut. Ia sedikit
terperangah melihat perahu layar bertiang tunggal. Di
layar itu ada gambar tombak bersilang dengan naga
melingkar di tengahnya.
"Iblis Pulau Bangkai!" geram Bidadari Jalang setelah
mengenali simbul pada layar perahu tersebut.
"Aku tahu kau punya urusan pribadi dengan Iblis
Pulau Bangkai. Agaknya ia datang untuk membalas
dendam atas kematian gurunya yang tempo hari pernah
kau hancur leburkan dengan ilmu 'Guntur Baja'. Jelas
sekarang murid tunggalnya yang bernama Nagadipa
sudah menguasai seluruh ilmu Iblis Pulau Bangkai. Mau
tak mau kau akan berhadapan dengannya Nawang
Tresni. Demi keselamatan anak ini, aku harus
menyelamatkannya dan menyembunyikannya."
"Tidak bisa!" sentak Bidadari Jalang.
"Percayalah padaku, Nawang Tresni. Serahkan dulu
anak ini. Biar kuturunkan seluruh ilmuku padanya, nanti
kau boleh mengambilnya kembali. Kau tak mungkin
menghadapi aku dan Iblis Pulau Bangkai itu secara
bersamaan. Kau pasti kesulitan, Nawang Tresni.
Hadapilah dulu musuh utamamu itu, setelah itu kalau
kau mau bikin perhitungan denganku, silakan!"
Bidadari Jalang diam mematung. Matanya menatap
laju perahu yang tampak semakin cepat mendekati
arah pantai. Ia berpikir beberapa saat. Ia
mempertimbangkan kekuatan lawannya yang akan
datang itu. Ilmu dari iblis Pulau Bangkai cukup
berbahaya. Dulu ia mengalahkan Iblis Pulau Bangkai
dalam keadaan belum terkena Racun Birahi. Tapi
sekarang dalam keadaan seperti ini, mungkinkah dia
akan unggul melawan murid Iblis itu, yakni Nagadipa?
Jika menurut perhitungannya. Ia tidak akan unggul,
apakah harus melarikan diri atau nekat melawannya?!
*
* *
6
SALAH satu hal yang amat dikhawatirkan oleh
Bidadari Jalang adalah ketampanan Nagadipa. Dulu,
ketika Bidadari Jalang melawan Iblis Pulau Bangkai,
hampir-hampir ia terbunuh karena kelengahannya.
Kelengahan itu disebabkan oleh munculnya Nagadipa,
yang pada waktu itu belum menjadi tandingan Bidadari
Jalang.
Lelaki berhidung mancung dengan mata indah
memancarkan kelembutan itu hanya diam di salah satu
sisi, memperhatikan pertarungan gurunya dengan
Bidadari Jalang. Dan pada waktu itu, Bidadari Jalang
sering mencuri pandang ke arah lelaki tegap dan
perkasa itu, sehingga hampir saja pukulan dahsyat Iblis
Pulau Bangkai mengenai bagian rawannya.
Pada waktu pertarungan itu terjadi, Bidadari Jalang
berhasil membunuh Iblis Pulau Bangkai. Kemudian ia
bermaksud menghampiri Nagadipa, ingin diajaknya
kencan. Tetapi pemuda itu telah lebih dulu
menghilang, ia cepat pergi begitu melihat gurunya
roboh, dan Bidadari Jalang kehilangan jejak. Tetapi
desir hati Bidadari Jalang pada waktu itu sudah
menciptakan keindahan yang mengesankan, sehingga
ketampanan, dan keperkasaan Nagadipa sering
terbayang dan mengganggu batinnya.
Sebenarnya mudah saja buat Bidadari Jalang untuk
mengalahkan Nagadipa nanti. Dengan senyumannya ia
bisa membuat pria itu tak berdaya, pasrah dan dimabuk
asmara. Tetapi repotnya, Bidadari Jalang pasti tergoda
juga birahinya. Padahal setiap birahinya muncul, maka
kekuatannya akan berkurang dan sebagian ilmunya
akan rusak, hilang. Karenanya, sudah sekian lama
Bidadari Jalang menahan diri agar tidak mudah
terpancing birahi, supaya kekuatannya tidak nyaris
habis. Memang begitulah akibat terkena Racun Birahi.
Tetapi sekarang ia harus berhadapan dengan
Nagadipa, yang konon keturunan bangsawan dari tanah
seberang. Mampukah ia menahan serangan luar dalam
dari murid Iblis Pulau Bangkai itu? Kalau saja Bidadari
Jalang mampu melawan jurus-jurus mautnya Nagadipa,
apakah dia masih mampu melawan godaan birahi dari
ketampanan Nagadipa? Apakah dia mampu menghindari
ajakan bercumbu yang terpancar lewat mata si tampan
itu?
Agaknya kebimbangan hati Bidadari Jalang tersadap
oleh indera keenam si Gila Tuak. Karenanya, sebelum
kapal itu menepi, Gila Tuak sempat mengajukan saran.
"Pergilah kalau kau ragu. Jangan hadapi dia
sebelum kau benar-benar yakin akan kemampuanmu,
Bidadari Jalang!"
"Hmm...," Bidadari Jalang mencibir sinis. "Kau pikir
aku gentar menghadapi Nagadipa? Sebaiknya kau saja
yang pergi, bawa anak itu agar tidak menjadi korban
kemarahan Nagadipa."
"Menjadi korban? Hmm... apa hubungannya?"
Dia akan menyangka Suto adalah anakku."
"He he he...," si Gila Tuak terkekeh. "Mana mungkin
dia menyangka begitu? Suto dengan kamu tidak punya
kemiripan sedikit pun. Dan lagi, kalau sampai dia
mengusik Suto, dia harus bangkit dari kuburnya."
Perahu semakin dekat. Semakin jelas bentuk layar,
tiang dan atap rumbia di tengahnya. Gila Tuak segera
beranjak mundur dan berkata kepada Bidadari Jalang,
"Aku akan menjadi penontonmu, Bidadari Jalang. Nah,
selamat bertarung. Tunjukkan kehebatanmu di depanku
jika kau punya niat untuk merebut Suto sebelum anak
ini menjadi muridku."
Weesss...! Angin cepat bertiup. Rambut Bidadari
Jalang tertiup dan berkibar sejenak. Itulah angin
kepergian Gila Tuak saat meninggalkan Bidadari Jalang.
Tetapi sebentar kemudian, wuuss.....
Angin cepat datang lagi. Gila Tuak terkekeh. Ia
lupa membawa Suto saat pergi tadi. Kini Suto
digendongnya, dan sebelum si Gila Tuak melesat lagi,
Suto buru-buru berkata, "Jangan ajak aku terbang, Kek.
Aku sudah sangat puyeng."
"He he he... baiklah. Mari kita jalan saja, Nak,..,"
karena menuruti rengekan bocah tanpa pusar itu,
akhirnya Gila Tuak pun jalan dengan santai, menuju ke
sebuah tempat, yaitu tebing karang yang tidak terlalu
tinggi. Dari sana masih dapat ia melihat keadaan
Bidadari Jalang berdiri bagai termangu menunggu
kedatangan lawannya.
Kini, perahu berlayar tunggal sudah menepi. Tetapi
anehnya belum ada yang muncul dari dalam perahu itu.
Bidadari Jalang sudah mengambil jarak dan bersiap
siaga menyambut serangan dari dalam perahu jika
sewaktu-waktu muncul. Tetapi sampai sekian lama ia
menunggu, yang ada hanya sepi dan sunyi. Tak sabar
hati Bidadari Jalang, maka ia segera melompat dari
tempatnya, bersalto di udara satu kali, dan hinggap
kakinya di buritan perahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar